Manchester United

"Makasih, Bab, untuk Jersey MU-nya..."


---

1997. Itu tahun saat gue menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Kali ini bukan sekedar vacation, tapi emang kembali tinggal di sini setelah 17 tahun gue tinggal sama kakek dan nenek gue di desa terpencil bernama Mangunranan. Ada yang tau gak? Dengan bantuan Google juga belum tentu ketemu daerah antah berantah itu. Desa ini ada di Kecamatan Mirit. Oke, sampe sini juga masih belum friendly juga? Dan berada di kabupaten bernama Kebumen yang berada di Jawa Tengah. Kalau sampe sini belum bisa bayangin di mana ya kebangetan! Tapi memang desa gue ini seperti belum terjamah peradaban, terutama saat itu. Bayangin aja, untuk mengenal telepon umum koin aja kalo gak salah saat itu gue udah duduk di bangku SMP. Bokep yang segitu mendunianya aja gue gak pernah tau ujudnya gimana. Sekali-kalinya media pornogarafi yang pernah gue lihat adalah mini poster cewek telanjang yang gak sengaja gue temukan di dalam majalah yang gue pinjem dari sepupu gue yang sekolah n ngekos di kota (ya di Kebumennya). Tau hal ini gue bingung, apa harus bangga atau justru sedih ya? Di kampung gue, film bokep gak gitu dikenal karena tv apalagi laser disc (cikal bakal cd/dvd player) jarang banget yang punya. Novel bokep atau dikenal dengan istilah stensil lebih ngetrend. Penulis di segmen ini yang paling happening adalah Any Arrow (or Enny Arrow? Sa'karepmulah). Dan serius, sampe detik ini gue liat ujud novelnya aja gak pernah. Apalagi baca! Kalo saat itu gue sering memention Any Arrow dalam candaan khas abege-abege cowok ya supaya gak dijudge kuper aja saat itu hehe.

Nih link googling image-nya buat ngebayangin. Karena gue sendiri juga baru tau barusan hehe. Link

Hampir setiap tahun gue pulang ke Jakarta. Tapi itu paling cuma seminggu. Biasanya pas liburan panjang akhir tahun pelajaran. Belum kenal juga sama yang namanya Bioskop. Gue pertama nonton Bioskop kalau gak salah Kelas 2 SMP haha. Kalau gak salah film dengan judul Air Heads. Itu juga diculik temen gue ke (sekali lagi hanya ada di) kota.

Opening tadi cukup lah menggambarkan kekuperan gue di usia gue yang ke-17 itu (I know, 17 tahun di tahun 97 tu sekarang udah tua. Gak perlu diingein, Bro n Sis!). Singkatnya adalah gue baru kenal sama Manchester United setelah gue tinggal di Jakarta. Aslinya gue hobby baca. Kalau di kampung gue sering nyewa buku atau novel di Taman Bacaan (yang sedihnya tapi tetep gak pernuh nemu stensil Any Arrow di rak Taman Bacaan langganan gue) di Jakarta gue langganan Majalah Hai. Serius, berasa gaul banget saat itu gue langganan majalah ini.

Berikut cover majalah Hai dari masa ke masa. Yang membedakan adalah modelnya harganya logonya.


Ini Cover Hai tahun kelahiran gue 1980.


Kalau ini tahun 1989. Saat itu belum langganan. Paling banter minjem temen.


Nah, pas logo ini gue langganan beberapa edisi (cuma beberapa edisi sih ngakunya langganan). Ini cover Hai tahun 2005. Favorit gue nih. Baik logo maupun celana dalemnya modelnya designnya.


Ini Hai tahun 2006. Udah gak pernah beli.


Yang ini tahun 2011. Tapi menurut gue logonya malah paling jelek kaku ya?

Gue lupa apa pernah gue posting sebelumnya apa enggak, gara-gara article The King Cantona di Majalah Hai, gue mulai mengenal MU. Dan langsung mengikrarkan diri sebagai fans fanatiknya. Begitu lah saudara-saudara setanah air cerita awal mula bagaimana saya mencintai club sepakbola ini.

Beberapa hobby yang menggambar kecintaan gue sama club ini adalah bikin kliping MU (yang sekarang entah ada di mana tu kliping gue), mengumpulkan poster-poster, dan lain-lain. Standar sih. Tapi ada satu yang gue belum punya: Jersey MU. Untuk yang abal-abal aja gue cuma punya 1. Begitupun jaketnya. Semunya gue beli di distro di Puncak saat kegiatan outbound di sana. Mahal adalah alasan utama. Mungkin gue terlalu miskin untuk memiliki jersey MU. Apalagi yang aslinya.

Tapi hari ini gue punya jersey aslinya, hadiah dari bini gue. Serius, gak terbayang betapa hepinya. Lebih happy dibanding berhasil download film bokap bokap di situs yang diblokir pemerintah sekalipun! Ini dia penampakannya, diperagakan oleh 2 model profesional yang sudah pensiun dini karena tersisihkan oleh para model pria berdada sixpack dan para model wanita berdada menjulang aduhai.














[FYI] Australia melarang film porno yang dibintangi artis berdada kecil. Wah, kabar buruk nih buat Aming kalau mau main film bokep di sana.

0 comments: