Manchester United

Puasa Tahun Ini dan Puasa Tahun - tahun Lalu...

Dua kali tenggorokan ini dialiri air liur. Ya, air liur. Gue batalin puasa hanya dengan air liur. Saat itu gue gak punya uang sama sekali untuk sekedar beli aqua gelas atau sebatang rokok sekalipun!


Sebelumnya, gue ucapin selamat menjalan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Gak peduli yang start dari Selasa, Rabu, atau hari-hari lain.

Saat gue menulis postingan ini, gue terjebak hujan di kantor sendirian. Buka puasa cuma pake teh manis yang gue bikin buru-buru. Dan mineral water nemu di kardus yang ada di dapur. Di luar hujan deras. Dan gue gak bawa raincoat. Gue yakin temen-temen kantor gue udah pada buka puasa di rumah sama keluarganya. Secara, selama puasa kita emang maju pulangnya dari biasanya jam 5 sore ke jam 4. Jadi bagi yang rumahnya jauh bisa buka puasa di rumah.

Kemaren sih gue buka di rumah. Karena libur awal puasa. Itu juga sendiri karena wify pulang malem. Dan hari ini, seperti yang gue tulis di atas, gue buka puasa sendiri di kantor kejebak ujan. Sedih kah? Galau kah? Jawabannya enggak kok.

Buat gue, puasa tahun ini mungkin adalah puasa dengan kondisi terbaik. Selama hidup gue. Jadi gue layak bersyukur karenanya. Sangat - sangat bersyukur. Tahun ini gue udah punya istri yang sangat gue cintai dan (gue yakin) sangat mencintai gue juga. Tahun lalu juga gue udah merit. Cuma bedanya tahun ini gue udah di rumah sendiri, jatah wify dari nyokapnya. Meski gak jelas statusnya, ini rumah dikasih, ngontrak, warisan, numpang atau beli nyicil. Intinya gue udah gak serumah sama mertua lagi lah.

Puasa tahun ini juga perekonomian gue, meski belum seatle, tapi udah cukup layak lah. Bukan nyombong. Apa yang mau disombongin? Cuma dibanding tahun-tahun sebelumnya, kehidupan gue sekarang sudah lebih baik. Alhamdulillah.

Saat gue meneguk teh manis barusan, gue inget banget beberapa tahun silam, antara tahun 97-98 an lah. Saat itu puasa. Gue lagi di depan Ramayana Ciputat. Tangan kosong gak punya gitar. Saat itu dari pengeras suara terdengar Adzan Maghrib menggema. Suasana berubah makin riuh. Banyak mereka yang berpuasa buru-buru meneguk minuman mereka. Baik yang ada di dalam angkot, mobil pribadi, naik motor pada minggir, atau yang ada di depan mall kayak gue. Sebagian juga mungkin gak puasa. Menghormati aja, nahan haus tapi gak bisa minum juga sebelumnya adzan karena gak enak.

Setelah meneguk minuman, hampir semua yang gue liat saat itu langsung menyantap hidangan pembuka. Ada yang makan gorengan, roti, atau apapun itu. Dan bagi pria-pria, sebagian besar dari mereka udah asyik dengan asap rokoknya. Sedaaaaaph!

Dua kali tenggorokan ini dialiri air liur. Ya, air liur. Gue batalin puasa hanya dengan air liur. Saat itu gue gak punya uang sama sekali untuk sekedar beli aqua gelas atau sebatang rokok sekalipun! (Saat itu gue masih ngerokok. Jadi tau artinya sebatang rokok di kala berbuka puasa)

Gue abisin teh manis gue. Meski gak banyak gula, karena emang gue gak suka manis, tapi teh ini terasa begitu manis, saat gue mengenang kejadian itu. Waktu itu gue bisa makan dan ngerokok setelah gue markir dulu di Pasar Ciputat. Di Pasar Ciputat itu juga gue berteduh dan tidur. Di sebuah Kios Kosong.

Kejadian itu bukan terpedih yang gue alami di bulan Ramadhan. Gue yang doeloe ada masalah soal relationship sama nyokap, bisa dikatakan berantem selalu di bulan puasa. Makanya sering gue puasa gak di rumah, karena diusir dari rumah atau gue minggat dari rumah. Pernah juga gue menjalani puasa di Rumah Singgah di Kawasan Cimanggis - Depok. Serius, kalau inget yang udah-udah, gue jadi makin bersyukur.

Hujan di luar belum ada tanda-tanda reda. Dan gak ada tanda-tanda ada tukang makanan lewat. Maklum, kantor gue ada di ujung jalan masuk gang. Gue ambil air dingin di dispenser. Begitu segar air putih ini saat mengalir di tenggorokan gue. Lirih, Ya Allah, tiada henti hamba haturkan Syukur Alhamdulillah, atas karunia dan rejeki-Mu untuk hamba.

[FYI] Tanggal 14 - 16 Juli 2013 pukul 16.27 WIB, posisi matahari tepat di atas kiblat. Sayangnya di sini mendung dan hujan, jadi gak kelihatan.

0 comments: