Manchester United

(Kangen) Lebaran (di Kampung)

Jaman gue kecil, makan sate itu ya cuma wisata lebaran pas ke pantai. Sadis banget ya?
---

Haha, hari gini baru posting lebaran. Yah, meski akses internet mudah tapi untuk tetap update blog ini minimal seminggu sekali sungguh sulit sekali. Tapi semoga postingan kali ini bikin gue semangat untuk terus blogging. Sebenernya gue hobby nulis kok. Meski untuk startingnya susah, kalau udah ngetik satu paragraf aja maka akan ngalir terus.

Temans, gak afdol rasanya kalau lebaran gak ngucapin di sini. Selamat Idul Fitri 1434 H. Taqabballahu minna waminkum. Shiyama wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin. Baik sengaja ataupun tidak. Semoga kita semua masih bisa bertemu bulan Ramadhan dan Idul Fitri bersama-sama tahun depan. Aamiin.

Syukur Alhamdulillah, puasa tahun ini gue pol. Yah, gak lepas dari support wify juga sih. Cuma yang mengenaskan adalah, kita gak taraweh sama sekali. Ada aja reason untuk gak taraweh. Iblis memang jagonya deh untuk menggoda umat seganteng dan secantik kami ini. Tahun ini juga kembali gue gak mudik ke Kebumen. Meski Simbah sebelum puasa udah datang ke Jakarta, tapi sebenarnya gue kangen juga mudik.

Lebaran di kampung sungguh terasa lebih greget gue rasain. Semangat untuk membeli baju baru, keliling kampung halal bi halal, dan ke pantai selatan adalah lebaran culture yang gak gue rasain di Jakarta.

Untuk yang pernah berlebaran di daerah Kecamatan Mirit, khususnya Desa Mangunranan mungkin pernah mengalaminya. Halal bi halal di sana itu bener-bener keliling kampung door to door. Asal ada pintu kebuka, asal masuk teritory tempat yang ingin kita datangi ya masuk. Dan lebarannya gak cukup cuma bersalaman saja. Tapi duduk berhadap-hadapan. Ada semacam ijab kabul gitu. Lebih tepatnya, si peminta maaf akan meminta maaf dan yang diminta maaf tentu harus menjawabnya pada si peminta maaf, sekaligus meminta maaf juga. Tapi kalau sama yang muda-muda biasanya cuma salaman doang. No wonder dulu sebelum lebaran gue dan teman-teman sebaya gue udah pada komat-kamit baca bacaan halal bi halal ini. Bahasanya? Biasanya mix antara Bahasa Jawa dan Bahasa Arab. Boleh ngarang sendiri, boleh juga nyontek punya temen. Bacanya boleh kenceng sampe semua tamu denger boleh juga dalam hati plus komat-kamit. Jadi bagi yang gak hapal atau malas ngapalin ya pura-pura aja komat-kamit. Nanti kalau udah berhenti komat-kamit si tuan rumah akan menjawabnya. Nah, kalau yang jawab biasanya harus bisa didengar oleh si peminta maaf.

Kebiasaan inilah yang membuat halal bi halal bisa memakan waktu seharian sendiri. Biasanya rombongannya berdua atau maksimal berempat. Salah satu sahabat gue partner halal bi halal saat ini udah jadi dosen di UIN Jogja.

Setiap rombongan punya jalur sendiri. Tapi tetep aja, kadang gue ketemu rombongan yang itu ituuu aja. Soalnya di sana itu bisa dikatakan kita harus menyipi hidangan lebaran yang ada. Dan favorite kita dulu adalah gorengan. Sederhana banget ya jadi orang kampung? :D

Pantai. Lebaran di sana kalau gak ke pantai gak afdol. Padahal yang dilihat cuma air, dan makan sate. Seumur-umur gue gak pernah lihat cewek berbikini di kampung. Dan jaman gue kecil, makan sate itu ya cuma wisata lebaran pas ke pantai. Sadis banget ya? Tapi ada ritual setiap kali gue ke pantai di sana yang gak akan berani gue cobain di pantai sini: minum air laut! Dengan cara bikin galian di pantai, tunggu sampai air datang dan biarkan hingga buihnya ilang. Minum dengan tangan. Sekalian cuci muka. Air pantai di sini gak berani gue. Sampah melulu!

Jangan dibayangin pantai di sana seperti Ancol yang aksesnya mudah. Di sana ada 2 pantai yang terkenal yakni Pantai Selatan dan Pantai Ambal. Pantai Selatan kalau gak salah hari pertama setelah lebaran alias hari kedua lebaran, dan Pantai Ambal setelahnya selama seminggu full. Untuk menuju bibir pantai harus ditempuh dengan cara jalan di pasir sekitar 30 menit - 1 jam! Ini serius. Cuma rasa capek itu hilang karena kita bertemu makhluk - makhluk Tuhan yang cantik-cantik. Dengan baju-baju barunya. Dan kalau sampe ketemu gebetan ya itu double bonus namanya.

Sepanjang jalan menuju pantai banyak tukang jajanan, pakaian, dll. Favorite gue biasanya adalah tukang aksesoris semacam kalung tengkorak (kenapa tengkorak ya? Gue aja sampe sekarang gak abis pikir), atau topi dan dompet. Sederhana lah pokoknya. Nah kalau di Pantai Ambal ada balapan kuda.

The most favorite of lebaran culture is dapet duit dari orang-orang. Baru-baru pula duitnya! Bisa lah dapet 50 ribu. Jaman gue kecil 50 ribu juga udah kebayang beli apartment loh hehe.

Ah, lebaran di kampung memang lebih meriah. Ngangenin! Entah tradisi - tradisi tadi masih ada atau enggak di sana.

[FYI] Saat seorang wanita bertemu seorang pria dalam situasi berbahaya (dan sebaliknya), mereka lebih cenderung untuk jatuh cinta. Good news bagi Jomblo Kronik. Carilah wanita di pinggir-pinggir jurang.

0 comments: