Manchester United

Percayalah, Hanya Kita yang Bisa Membangkitkan Diri Kita Sendiri Saat Kita Terjatuh

Ada 1 hal sederhana yang dapat kita lakukan saat kita di posisi seperti itu: jawablah.
---

Fuih, melelahkan. Saat pengen posting 1 minggu 1 postingan aja gak kekejar. Sama melelahkannya mendengar survey-survey gak penting namun kocak @C_lontong di acara @LawakKlubTrans7. Dan apa yang gue share berikut ini juga melelahkan. Melelahkan nurani.

Sampe sini gue minta maaf dulu sama mertua gue karena namanya gue bawa-bawa. Ampun ya Ibu Nurani :)

Hidup dan masalah dua sisi koin yang akan selalu datang dalam satu paket. Intinya ada hidup ya ada masalah. Udah gak idup aja masih ketemu masalah. Cuma kadang adalah, masalah datang saat kita gak siap. Dan kayaknya masalah ini tau kapan saat kita gak siap, maka dia akan datang. Orang Jawa keknya ni Masalah. Kalau orang Betawi namanya Bangsalah. Dan apa yang kita lakukan saat masalah itu datang emang lah gak sama tiap-tiap individu. Tapi menurut pendapat pribadi gue, bisa jadi pendapat gue ini salah silakan kalau mau dikoreksi, saat masalah datang pada seseorang, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari bantuan. Humanity lah. Dan gak terkecuali gue.

Bulan ini adalah bulan berat buat gue pribadi. Dan karena gue menanggung hidup istri gue, dan juga keluarga gue yang lain (nyokap gue, ibu mertua gue, adek ipar gue, bokap gue, adek-adek gue) baik secara langsung maupun gak langsung, maka saat gue terjatuh impactnya orang-orang yang gue sebutkan tadi akan merasakannya. Gue pribadi bukan type orang yang mudah cerita ke orang lain akan masalah yang sedang gue hadapi. Gak usah jauh-jauh, istri dan nyokap gue aja belum tentu tahu bagaimana kerasnya hidup yang gue jalanin sekarang. Bukan gue gak mau berbagi, hanya saja, berbagi beban kok gue ngerasa beban tersendiri buat gue. Saat gue sedang memikul beban, gue melihat orang lain ikut memikulnya, itu juga nambahin beban gue. Gak heran, istri gue pernah shock luar biasa saat ada orang ke rumah dateng, nagih pembayaran gue yang terlambat, saat gue sama dia lagi makan malam bareng penuh kesederhanaan sambil nonton tv. Dia jelas kaget. Mungkin seumur-umur baru kali ini dia mengalami ada Debt Collector dateng ke rumah. Yah, ini lah hidup. Lebih kaget lagi, mengetahui nominalnya "cuma" 6 juta. Yang langsung gue beresin 2 hari kemudian saat client juga udah beres pembayarannya. Lebih kaget lagi, yang nagih ini adalah temen deket. Pake ada acara diem-diem BB bini gue diumpetin di sela-sela sofa, dan ketemu saat dia miscall-miscall. Ketemunya sudah dalam keadaan 2x salah masukin PIN! Yah, ini lah hidup.

Nyokap. Mungkin baru kali ini juga ngalamin ada orang ke rumah yang kurang lebih sama, nagih uang pembayaran 28 juta, kali ini gede sih, yang dalam prosesnya gue cicil-cicil pembayarannya. Ada 10 juta gue cicil 10 juta. Ada 4.1 juta gue cicil 4.1 juta. Alhamdullah, sampe gue bikin postingan ini masih kurang 14 juta lagi. Separo dari utang gue sebelumnya. Guess what? Salah satu dari 3 orang yang ke rumah gue, beberapa bulan sebelumnya berkali-kali minjem duit gue dengan alasan berobat nyokapnya. Yang pas gue tanya temen-temen kerjanya, gak ada yang tahu akan hal ini. Dia juga bilang kalau gue orang pertama yang ia hubungin saat itu. Well, ini baru hidup.

Terbukti, gue malah bisa lepas cerita di blog ini. Sahabat sejati selama 9 tahun ini. Itupun karena ada satu yang pengen gue ceritain.

Pembunuhan karakter, ini adalah pukulan telak pertama yang gue alamin. Nama baik gue ada di ujung sepatu mereka yang menyebarkannya via FB dan Broadcast BBM. Efek secara ekonomi mungkin gak gue alamin secara langsung. Tapi mental. Sampai kapan pun gak akan ilang. Meski gue mati-matian membela diri. Meski beberapa tahun kemudian gue menjelma jadi Robinhood yang bagi-bagi duit ke banyak orang, tetap saja, yang pernah menerima broadcast atau membacanya gak akan pernah lupa. Tapi akhirnya berakibat secara ekonomi juga. Karena down to earth gue bikin gue males ngapa-ngapain. Sebagai pekerja sendiri tentu ini sangat fatal. Dan untuk recovery masalah ini pun ada cost secara rupiah yang gue keluarin. Yang sayangnya gak bisa merubah apapun.

Di-dissable-nya web outbound.co.id adalah pukulan selanjutnya buat gue. Blog yang gue beli dan gue maintain dengan susah payah, karena ada masalah yang membuatnya harus dilock sama penyedia hostingnya. Setelah itu omset gue turun drastis. Sangat drastis. Para orang yang gak suka gue maju mungkin sedang tertawa terbahak-bahak mengetahui hal ini.

Mobil crew peralatan gue ditabrak orang gila yang saking gilanya dia ngebut dan sadar-sadar udah terlentang dengan 4 roda di atas. Mobil crew gue terbalik 3 kali dan muter kayak gasing dengan posisi miring ke kanan, setir di bawah. Kerugian yang gue alamin jelas material dan non material. Alat-alat gue rusak. Biaya project gue membengkak. Mental gue drop.
Seperti yang gue sebutkan di atas, meski gue gak suka ngemis-ngemis minta bantuan orang, kecuali udah di limit kemampuan gue, saat kesulitan ini datang, gue menghubungi orang-orang dekat gue, atau yang gak gitu dekat tapi gue yakin mampu. Ya Allah, berkatilah orang-orang yang mau menerima gue baik dia bisa bantu ataupun bantu dari sisi lain (support, doa, dll). Tapi mungkin kalian juga pernah mengalaminya, saat masalah datang, cuma 1% orang bisa bantu, 99% adalah kita sendiri. Gak peduli kita ada saat orang lain butuh, tapi percayalah, gak semua orang-orang itu ada saat kita bertukar posisi. Mereka gak salah. Mungkin hidup memang begitu adanya. Supaya kita bisa bangkit dengan kemampuan kita sendiri. Supaya kita semakin kuat.

Kadangkala, gak usah orang lain, kita pun begitu ingin membantu orang lain, tapi kita juga dalam kesulitan. Ada 1 hal sederhana yang dapat kita lakukan saat kita di posisi seperti itu: jawablah. Kalau perlu ceritakan keadaan kita yang sebenarnya. Bisa jadi orang itu menganggap kita mampu tapi sejatinya gak seperti itu. Jawablah. Sesederhana itu kok. Kalau kita mendoakannya juga ya ini bonus buat orang tsb dan nilai plus buat kita. Karena, saat orang membutuhkan pertolongan dan meminta pertolongan kita, baik by sms, bbm, whatsapp, email atau apalah, percayalah bahwa orang itu menanti jawaban kita. Di ujung sana ada orang yang sedang kesulitan menitipkan harapannya pada kita untuk membantunya, kalau ada secara materi ya materi, kalau gak ada ya bantu dia dengan support dan doa.

Rasa apresiasi gue yang mendalam untuk sodara dan sahabat gue @andivox yang sudah menemani gue begadang sampe pagi dan rela kopi-kopi sachetnya gue abisin demi mendengarkan keluh kesah gue.

Guys, saat kita terjatuh, percayalah, hanya kita yang bisa membangkitkan diri kita. Hanya kita yang bisa membantu kita. Jangan terlalu berharap pada orang lain. Gak peduli orang tsb sering banget kita bantu atau orang itu mampu. Mampu kadang tidak sama dengan mau. Gak peduli tu orang masih punya urusan sama kita. Jangan terlalu berharap. Kalau mereka bantu anggap itu bonus. Tokoh utamanya tetap diri kita sendiri. Kita hanya perlu rehat sejenak, take a breath. Lalu tata hidup kita dari awal. Kalau perlu dari minus juga gapapa. Kalau masalah itu menyangkut keuangan, ingat-ingat barang apa yang kira-kira bisa jadi duit. Kalau sayang untuk dijual, bisa kita gadai. Sekarang banyak pegadaian yang nerima barang-barang kita dengan opsi renewal tiap bulan sampe maximum 3 kali renewal (pengalaman banget). Jangan menghindar. Bicarakan baik-baik dan minta kebijakan waktu.

Kalau masalahnya bukan uang, misal soal cinta atau apa lah, hampir sama. Take a breath and take action. Good luck ya, guys...


Fin.


























0 comments: