Manchester United

PAK TUA (Part 1)

... penderitaan gue mungkin belum seberapa dibanding penderitaan bapak-bapak tua asal Karawang yang gue 'temukan' malam pada tanggal 21 Mei yang lalu di daerah Meruya Selatan ...
---

Perpecahan keluarga gue (baca perceraian kedua orang tua gue) sedikit banyak, banyak lebih pasnya, membuat gue suka tersentuh melihat penderitaan pak tua atau ibu tua yang gue lihat. Lebih spesifik mungkin pak tua kali ya. Karena akan mengingatkan gue pada bokap. Kalau nyokap sih jelas. Setiap saat gue bisa ketemu karena bisa dikatakan tinggal sama gue. Kalau bokap kan enggak.

Gue dari kecil sampe setua ini, jarang tinggal lama sama bokap. Ya, gue lebih nyaman tinggal sama nyokap yang tinggal sendiri. Jadi hubungan gue sama bokap tidak senormal hubungan bapak - anak yang tinggalnya bareng. Kalau tuanya bokap jaya sih mungkin gue gak miris. Masalahnya bokap gue tuanya bisa dikatakan hidupnya susah. Sangat susah. Ini yang kalau gue liat ada bapak-bapak tua gue bisa nangis. Gue akan langsung teringat bokap gue.

Pernah pas gue lagi event di Augusta Hotel Sukabumi muka gue basah (bukan karena disiram air sama crew gue ya) pas gue melihat ada bapak-bapak tua lagi motongin rumput. Pernah juga gue buru-buru minggir untuk menanti bapak-bapak tua dengan tertatihnya dengan pikulan buahnya untuk membelinya. Yang gue sendiri lupa buah yang gue beli apa waktu itu.

Back to present,

Kehidupan gue 2 bulan ini bener-bener anjlok se anjlok-anjloknya. Kere banget. Yang kasihan jelas orang-orang di belakang gue. Istri gue, nyokap gue, mertua gue. Utang di mana-mana, silih berganti debt collector ke rumah atau sekedar sms/telpon/email.

Kadang gue ngerasa hidup ini sangat sangat gak adil. Kemana orang-orang yang pernah minjem uang gue, baik udah lunas apalagi belum bayar sama sekali? Kenapa mereka tidak mempermudah bayar ke gue semudah mereka meminjamnya? Kemana?

Atau, kenapa orang yang meski gak gue kenal deket tapi beberapa kali minjem uang gue, bahkan terus mengejar pas gue lagi gak ada tapi kini terus mengejar gue karena gue ada sangkutan di tempat dia bekerja? Toleransinya di mana?

Dan terakhir tentu saja, kemana orang yang nabrak mobil crew gue yang bikin gue rugi cukup banyak? Ada sih. Tapi karena gue gak tega, gue ijinin dia nyicil dan dengan nominal yang kalau ditotal pun sangat sangat jauh dari jumlah kerugian gue.

Ring 1 gue juga banyak yang collapse. Baik yang deket maupun yang jauh. Jadi cari pinjeman pun sangat sulit. Bahkan bisa dikatakan gak ada. Dengan beberapa barang-barang utama gue ada di pegadaian, sungguh berat sekali gue melangkah.

Ada beberapa gue kenal orang-orang besar yang gue rasa mereka mampu secara finansial. Tapi gue riskan untuk meminta bantuan pinjaman. Sekalinya gue nekad share apa adanya, ternyata gak ada jawaban sama sekali dijawab sekedarnya lalu gak ada kabarnya lagi. Mungkin karena gak diliput medis (sosial) sama sekali. Padahal selama ini dia baik banget (di media sosial). Ah, sudahlah.

Namun, penderitaan gue mungkin belum seberapa dibanding penderitaan bapak-bapak tua asal Karawang yang gue 'temukan' malam pada tanggal 21 Mei yang lalu di daerah Meruya Selatan, gak jauh dari rumah gue.

Gue baru pulang ikhtiar. Abis ketemu sahabat yang beberapa kali menolong gue. He's one of my best. Seharian gue nongkrong di kantornya yang juga EO kek gue. Sorenya dia traktir gue.

Namun, kali ini keadaan juga yang membuat dia tidak bisa membantu gue seperti sebelumnya. Gue gak menyalahkan dia. Tidak mampu tidak sama dengan tidak mau. Gue pun pulang, setelah ditraktir makan dan parkiranpun sampe dibayarin.

Pulang dari sana, gue sadar, kalau motor gue bensin sudah sangat tiris. Sampe SPBU aja sukur nih. Masalahnya bukan saja ini motor sampe SPBU atau enggak, masalahnya adalah gue gak megang uang sama sekali waktu itu!

(Part 2)
[FYI] Orang yang pertama kali mencapurkan gula ke dalam kopi adalah Raja Louis XIV pada tahun 1715. Yang pertama mencapurkan kopi ke dalam gula siapa? Mungkin istrinya.

0 comments: