Manchester United

Gue Rasa, Pemerintah (Presiden, KPU, TNI/Polri) Sudah Tahu Real Count Pilres 2014

Ada lagi, kalau dipublish duluan oleh Pemerintah ini akan mematikan usaha pollster.
---

Anti klimaks. Antusiasme mayoritas masyarakat kita di Pilpres ini anti klimaks saat kita kembali dibingungkan oleh informasi yang disiarkan media tv kita akibat ada perbedaan hasil quick count.

Banyak banget mantan golput -termasuk gue- gagal ejakulasi saat semua Capres mengklaim kemenangan.

Sumber utama permasalahan menurut gue adalah karena adanya perbedaan hasil quick count 4 pollster, yang ajaibnya angkanya sekilas adalah kebalikan dari 7 pollster lain. Yang mencurigakan, 4 pollster ini cuma ada di TV yang notabene pendukung capres yang dimenangkannya.

Tapi postingan kali ini gak mau ngebahas detail pollster-pollster. Next post saja. Masih nyari datanya dulu. Di FB gue juga udah meminta maaf atas perdebatan-perdebatan pada kubu yang gak sama dengan gue. Karena gue yakin, Pemerintah, dalam hal ini Presiden, TNI/Polri, KPU sebenarnya sudah mengetahui real count Pilpres hari itu juga. Tapi ini opini pribadi ya. Bisa jadi gue salah.

Guys, biaya penyelenggaraan Pilpres kemaren itu luar biasa besar. Trilyunan. Pasti ada lah post budget untuk mereka laporan ke pihak terkait. Di setiap TPS yang tersebar di seluruh wilayah NKRI semua sudah ada petugas-petugas yang biasanya terdiri dari: Beberapa Panitia, TNI/Polri, dan saksi. Kalau saksi itu biasanya internal dari masing-masing capres. Kita bahas Panitia dan TNI/Polri saja.

Gue percaya, panitia memiliki data hasil perhitungan di TPS masing-masing. Gue percaya mereka akan melaporkan ke level di atasnya. Level di atasnya ini akan report ke level di atasnya. At least via sms lah. Mereka kan dibayar. Gue yakin semua (minimal 1 orang) ada yang punya hp dan pulsa untuk sms di masing-masing TPS.

Semua report ini terkirim dan sore hari gue rasa KPU pusat sudah bisa ngitung. Tinggal nunggu fisiknya.

TNI/Polri. Hampir sama casenya, cuma beda medianya. Mereka biasanya pake HT. Lapor ke atasan-atasannya hasil perhitungan suara di TPS. Sore hari, presiden pun sudah punya angkanya.

Saksi di TPS gue skip aja lah ya.

Bisa salah gak laporan mereka? Bisa. Misalnya: semua panitia gak ada yang punya hp, kecopetan berjamaah, salah sms, datanya kebalik, gak ada signal, dll. Tapi gue rasa margin of errornya kemungkinannya kecil.

Kenapa KPU dan Presiden gak mengumumkan data yang mereka terima kemaren? Terlalu gegabah kalau diumumkan sekarang. Pasti tunggu laporan secara fisik lah. Supaya dicroscek. Mengingat adanya kemungkinan yang gue sebut tadi, ada TPS yang gak lapor karena gak ada signal atau yang lain. Lagian kalau pemerintah mempublish siapapun itu hasilnya real countnya, maka akan mencederai petugas yang membawa laporan suara secara fisik lah. Ngapain ditulis dan capek-capek dibawa ke KPU kalau hasilnya udah dipublish duluan? Ada lagi, kalau dipublish duluan oleh Pemerintah ini akan mematikan usaha pollster. Pollster adalah bagian tak terpisahkan dari politik.

Pendapat gue ini terbukti dengan tweet personal presiden dengan note *SBY* di akhir tweetnya yang menyindir salah satu capres untuk dengan kesatria mengakui kalah, bukan malah ngotot atas dasar data pollster bayaran. Intinya yang gue tangkep seperti itu. Dan gak lama setelah itu 2 pasangan ini sowan ke Cikeas.

Masyarakat kita sudah cerdas, dan kredibilitas pollster yang memenangkan Jokowi juga sangat meyakinkan. Tambah 1 pollster yang awalnya sebagai satu-satunya pollster di tv kubu no. 1. Tapi entah kenapa 'dicut' di tengah jalan, dan justru mengumumkan hasil quick countnya di tv sebelah. Bisa ditebak kenapa dia dicut? Yup, dia memenangkan Jokowi.

Gue pernah kerja di media riset. Gue percaya, manipulasi data bisa saja terjadi. Di lapangan pun, sebagai interviewer dulu gue pernah cheating, misal gak bener-bener survey responden karena gak ketemu, jadi datanya gue karang-karang atas tuntutan deadline, dll. Nah, menurut perkiraan gue, pollster yang beda result ini disebabkan mereka memilih TPS sebagai samplenya, tidak random. Let's say, mereka sudah dapet 4000 TPS dan sengaja hanya memilih 1000 TPS yang hasilnya suara Prabowo menang. Setau gue, banyaknya jumlah TPS ini untuk menentukan margin off error. Nah, dengan hanya memilih TPS yang suara Prabowo menang ya wajar, kalau secara global Prabowo menang. Kenapa sampe 4000 TPS kalau yang diambil cuma 1000? Jaga-jaga kalau jarang TPS yang memenangkan Prabowo. Nah, makin banyak juga master TPS makin mudah setnya. Bikin serandom dan senatural mungkin. Seperti milih TPS yang juga memenangkan Jokowi tapi tentu secara global gak boleh melampaui jumlah suara Prabowo. Tapi sekali lagi ini pendapat pribadi. Bisa jadi gue salah.

Yang gue sayangkan adalah, ada simpatisan militan (partai itu lah) yang nampilin hasil berdasarkan form C1 yang menyatakan Prabowo menang secara real count. Atau mencomotnya dari web yang gue yakin bukan KPU. Ini jadi semacam ngeledek. Mereka sendiri yang minta nunggu tanggal 22 Juli tapi mereka sendiri gampar muka kita pas kita lagi makan sahur.

Keyakinan gue ini sebagai modal, kalau data fisik KPU gak sesuai dengan report yang diterima oleh KPU dan Presiden sebelumnya, data ini kemungkinan udah dimanipulasi. Tentu Presiden dan KPU gak akan tinggal diam dan membuat keputusan yang seadil-adilnya. Ini untuk mengurangi kekuatiran kita akan adanya kecurangan data saat laporan suara dikirim dari TPS ke KPU. Soalnya, kalimat: 'Kita tunggu real count di KPU' ini mirip dengan 2 kakak beradik jotos-jotosan di sekolah, si kakak udah berdarah-darah di ubin dan mengatakan: 'Kita adukan ke ayah di rumah pulang sekolah!' Yakin gak adeknya pulang gak dicegat di tengah jalan?

Last but not least, gue berdoa negeri ini gak terjadi chaos. Kalau KPU menetapkan Prabowo yang menang, jelas kemunduran demokrasi dan pelecehan terhadap 7 pollster yang beberapa di antaranya sudah puluhan tahun di bidang ini. Mereka profesional. Cari makan di sini. Gak berani lah main-main. Sebagian toh pake duit sendiri untuk project ini. So, akan timbul kemarahan besar masyarakat. Gue akuin, simpatisan Jokowi ga serapih mereka pergerakannya. Karena banyak dari pendukung Jokowi yang berangkat atas nama personal. Termasuk gue. Kalau pendukung no. 1 kan lebih terorganisir pergerakannya. Sampai ada yang kepikiran bikin tabloid abal-abal itu. Tapi karena tidak serapih kubu no. 1 ini lah yang jadi susah dikontrol. Chaos 98 bisa terulang. Jangan deh.

Kalau Jokowi yang dimenangkan oleh KPU? Kemungkinan open battle di MK pun terbuka. Luka karena Akil Mochtar belum lah kering. Di tambah di kubu Prabowo ada Mahfud MD yang tau bener seluk beluk MK. Gue rasa yang bisa 'menandingi' level Mahfud adalah Yusril. Sayangnya Yusril yang secara partai adalah pendukung Prabowo menyatakan netral gak mau bela siapa-siapa. But like or dislike, dia adalah Kader PBB, pendukung Prabowo. Tanpa menuduh tapi ini adalah fakta.

Kalau gugatan MK memenangkan Prabowo, chaosnya bisa lebih parah dari kemungkinan pertama. Gimana enggak, udah menang di mayoritas quick count, dimenangkan KPU eh digagalkan MK! Ngeri deh.

Kalau after MK yang menang tetap Jokowi, berharap saja mereka bisa legowo.

Kita berdoa agar semua pihak bisa menahan diri, legowo, gak belagu, gak arogan, gak main gampar atau lempar hp, gak main culik, gak bermanuver yang bisa memecah NKRI kita. Makanya bhinneka tunggal ika di garuda emas jangan dicat merah dong hehe.

Opini pribadi, seorang awam, yang bisa jadi salah.

Salam.

[FYI] Di Kutub Utara, saat kita meludah maka akan membeku saat masih melayang di udara. Bagaimana dengan pipis?

1 comments:

Outbound said...

Iya lah gan. Pastinya. Pemerintah Pasti udah tau hasilnya.